Filsafat dan Sains

Philosophy, Popular Science

By: Syarif Maulana

Sejak Aristoteles mulai memisahkan bidang-bidang keilmuan berdasarkan objek yang ditelitinya, sejak itu pula era profesionalisme keilmuan lambat laun mulai berkembang. Aristoteles sendiri, agar bisa membuat dikotomi-dikotomi tersebut, terang saja tidak bisa menggeluti satu bidang saja, ia harus merambah semuanya, maka itu ia disebut sebagai polymath atau manusia-penggelut-banyak-ranah. Pada perkembangannya, para polymath itu tetap ada ragamnya dalam semangat Renaisans misalnya. Ia menubuh pada Leonardo Da Vinci, Michaelangelo, Galileo Galilei dan banyak lainnya. Tidak ada pemisahan serius antara sains, filsafat, seni atau bahkan agama, kesemuanya berjalan bersama-sama dan mereka para polymath berbasis sebaris kalimat dari Leon Battista Alberti yaitu “a man can do all things if he will.”

Namun rentang waktu antara Aristoteles dan Renaisans ini cukup jauh, di tengahnya ada suatu jaman bernama Abad Pertengahan yang mana diantara keempat basis peradaban tadi, agama lah yang berada pada kasta tertinggi. “Filsafat adalah hamba dari teologi,” demikian kata Abad Pertengahan. Yang sejujurnya tidak hanya itu, sains dan seni pun menjadi berada di bawah kendali agama. Semuanya punya peran hanya jika, misalnya, mampu membuktikan keberadaan Tuhan.

Pasca Aristoteles, pasca Abad Pertengahan, pasca Renaisans, tempos muntantur, et nos mutamur in ilid, waktu berubah dan kita ikut berubah di dalamnya. Manusia polymath mulai jarang ditemukan, dan bermetamorfosis menjadi monomath yang independen. Filsafat melahirkan filsuf, sains melahirkan ilmuwan, seni melahirkan seniman, agama melahirkan agamawan. Terkadang keempatnya bersinggungan, tapi seringnya tidak. Terlebih lagi, dalam sains itu sendiri ada “sub-spesialisasi” yang semakin kecil dan terkotak-kotak. Ada ahli biologi, kimia, matematika, hukum, sosial, dan lain sebagainya. Spesialisasi-spesialisasi itu juga kadang-kadang bersinggungan, tapi makin hari, ketika dunia sekarang dikendalikan oleh kapital, maka peluang untuk menjadi manusia polymath adalah buang-buang waktu dan produktivitas. Seorang lulusan universitas hukum ada baiknya dia kerja di firma-firma hukum, seorang lulusan akuntansi ada baiknya dia kerjanya mengaudit saja.

Tentu saja ini bisa jadi problem, bisa jadi bukan. Bisa jadi ini adalah semacam zeitgeist alias semangat jaman saja. Bahwa memang pernah ada jaman dimana manusia polymath berjaya, namun sekarang yang bisa survive adalah para monomath. Namun pertanyaan kritisnya terletak disini: Apakah menjadi monomath itu sebuah pilihan? Atau jangan-jangan ada suatu “kekuasaan tak tampak” yang membuat kita tak mungkin menjadi seorang polymath?

Filsafat sebagai basis polymath
Aristoteles, bagaimanapun adalah juga seorang yang secara intens berfilsafat. Berfilsafat adalah kegiatan mempertanyakan serta merumuskan sesuatu secara reflektif dan mengandalkan nalar semata-mata. Basisnya adalah akar katanya sendiri, yaitu philo (cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Jika digabungkan dan diinterpretasikan secara bebas, maka berfilsafat adalah kegiatan nalar yang dimaksudkan untuk mencapai kebijaksanaan. Pada basis definisi ini, terang saja filsafat sesungguhnya tidak perlu dibeda-bedakan dengan sains, agama, dan seni. Karena ketiga yang terakhir ini juga butuh nalar: dalam sains nalar perlu untuk verifikasi, hipotesis, dsb, dalam agama dibutuhkan untuk tafsir teks kitab suci, dalam seni juga perlu untuk memperkuat sebuah konsep karya.

Problemnya, filsafat sebagai pijakan berpikir seringkali dilupakan dalam ketiga bidang terakhir ini. Ada tuduhan bahwa filsafat membawa individu pada cara berpikir kritis yang seringkali membawa implikasi kurang baik bagi, misalnya, dogma-dogma agama. Dalam sains pun demikian, filsafat adalah kegiatan bertele-tele yang barangkali tidak punya andil dalam memecahkan rahasia alam atau hitung-hitungan angka yang bagi sains lebih memberikan kepastian. Juga bagi seni, filsafat bisa dituduh tak berguna karena seni adalah kegiatan yang mengandalkan rasa, dan penggunaan nalar agaknya menciptakan kontra-produktif.

***

Sekarang mari kita lebih spesifik masuk ke ranah sains saja. Plato mengatakan bahwa segala filsafat datang dari rasa kagum. Bahwa ada suatu ketertarikan khusus pada fenomena yang membuat individu tertarik untuk mengajukan pertanyaan, hipotesa, atau menjawab dengan basis rasio. Sebelum ditemukan metoda pembuktian-pembuktian empirik, manusia menjelaskan fenomena hanya dengan nalarnya. Misal, Thales berkata, “Alam semesta ini terbuat dari air.” Pada waktu itu Thales hanya mengandalkan pengalaman indrawinya saja yang mungkin ia dapatkan dari kecenderungan di sekitarnya yang dimana-mana terdapat air (Apakah orang-orang di gurun pasir akan mengatakan demikian?).

Kita bisa mengasumsikan bahwa pertanyaan seperti ini adalah cikal bakal dari sains. Bahwa semuanya bermula dari rasa kagum, rasa ingin tahu yang besar, dan suatu pertanyaan fundamental, terlebih tentang: Apakah sesuatu itu? Dari mana datangnya? Bagaimana kita bisa tahu? Apa manfaatnya? Setelah pertanyaan ini timbul, barulah muncul berbagai cara untuk menjawabnya. Filsafat tetap pada pendiriannya dengan nalar, sains dengan pembuktian empiris, agama dengan dogma, seni dengan karya. Kesemuanya berupaya menjawab, namun filsafat sebagai kegiatan olah nalar amat bermanfaat sebagai pijakan, sebagai kegiatan “membangun pertanyaan yang merangsang”.

Tanpa Pemahaman Filsafat sebagai Basis Keilmuan?

• Ada cerita menarik dari kawan bernama Palupi, katanya: “Waktu belajar kalkulus dulu, seorang dosen mengajar langsung pada materi kalkulus. Setelah saya baca bukunya, si dosen itu sebenarnya telah melewati sebuah bab yang mendasar, yaitu dasar keilmuan dan asal muasal kalkulus itu sendiri.

• Seorang khatib di ceramah Ramadhan mengingatkan untuk berhati-hati, “Jangan hanya belajar ilmu duniawi seperti ilmu biologi, ilmu fisika, atau ilmu geografi, pelajarilah yang terpenting, yakni ilmu agama!”

• Seorang profesor dari sebuah universitas di Semarang mengatakan hal ini, “Dunia pendidikan sekarang agak carut marut oleh sebab tidak adanya pengajar filsafat yang bagus. Sehingga lulusan universitas menjadi pragmatis, hanya berpikir kerja dan kerja, tanpa ada suatu renungan mendalam tetang apa yang sudah ia pelajari.”

• Seorang calon Ph.D dalam bidang kimia berkata begini, “Ah, saya kan ahli kimia, bukan keahlian saya membicarakan Tuhan.”

Apa komentarmu?

Comments

comments

» Philosophy, Popular Science » Filsafat dan Sains

, January 19, 2015

Comments are closed.