Ilmu-Ilmu Sosial

Philosophy

By: Syarif Maulana

Pada saat memasuki SMA, seringkali kita dihadapkan pada pilihan: masuk IPA atau IPS? Namun kenyataannya, hal tersebut bukanlah sebuah pilihan. IPS seringkali menjadi nama lain bagi “tempat siswa yang gagal masuk IPA”. Kenapa? Jawabannya adalah: sistem. Sistem pendidikan di Indonesia terlalu pro-IPA. Anak-anak IPA mempunyai akses yang lebih mudah dan luas untuk masuk perguruan tinggi ketimbang anak IPS. Padahal, faktanya, IPS adalah ilmu yang lebih mutakhir, ia hadir belum lama ini dan semakin dibutuhkan ketika persoalan sosial kontemporer menjadi semakin njlimet.

Batas-batas Positivisme

Positivisme, bagaimanapun juga, membawa suatu cara pandang baru bagi penyelesaian berbagai problematika kehidupan. Meski demikian, justru cara pandang itu juga menjadi persoalan baru, terutama ketika dikaitkan dengan manusia. August Comte begitu bersemangat untuk menerapkan positivisme pada manusia, tujuannya adalah meramalkan dan maka itu juga bisa mengontrol. Pertanyaannya: Bisakah manusia dikontrol? Kalaupun bisa, pastilah tidak sepenuhnya. Beberapa pemikir seperti Wilhelm Windelband mengakui bahwa ilmu sosial termasuk ke dalam idiografis atau bertujuan untuk “melukiskan keunikan”. Jadi ilmu sosial, dalam hal ini harus dijauhkan dari klaim berlebihan positivisme. Positivisme dicurigai kerapkali mereduksi dunia dengan metodologinya. Padahal, kata pemikir ilmu sosial, manusia itu harus “dialami langsung”.

Fenomenologi
1. Epoche
Fenomenologi diperkenalkan pertama kali oleh Edmund Husserl (1859 – 1938). Ia mengritik positivisme yang mereduksi dunia dengan asumsi-asumsinya. Husserl mengatakan, “Apa yang disebut fenomena adalah realitas itu sendiri yang nampak setelah kesadaran kita cair dengan realitas.” Metode yang digunakan Husserl adalah dengan membiarkan fenomena itu berbicara sendiri tanpa dibarengi dengan prasangka (presuppositionless). Husserl kemudian mengatakan, bahwa fenomenologi harus dimulai dari epoche atau tanda kurung. Epoche berarti juga “menunda putusan” atau “mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”.
Ada contoh bagus dari Pak Bambang Sugiharto tentang epoche: “Jika meneliti air, positivisme akan menerapkan dulu metodenya, sedangkan fenomenologi menempatkan air pada epoche dulu, menunda asumsi. Sehingga ketika diteliti dan dipahami, makna air malah menjadi berlimpah, misalnya untuk bersuci, untuk upacara, untuk doa, atau untuk pengobatan. Air tidak disempitkan menjadi H2O seperti halnya kaum positivis.”
2. Eideitic Vision
Setelah asumsi ditinggalkan, maka tiba waktunya untuk mendalami fenomena itu sendiri. Kata Elliston, “Membiarkan apa yang menunjukkan dirinya sendiri dilihat melalui dirinya sendiri dan dalam batas-batas dirinya sendiri, sebagaimana ia menunjukkan dirinya melalui dan dari dirinya sendiri). Eideitic vision biasa disebut juga reduksi, yakni menyaring fenomena untuk sampai pada eidos-nya, pada apa yang sejatinya.
3. Lebenswelt
Lebenswelt berarti juga dunia kehidupan, atau “dunia sebagaimana manusia menghayati dalam spontanitasnya”. Husserl mengungkapkan bahwa dunia harian kita telah “tercemari” oleh asumsi-asumsi ilmu pengetahuan dan filsafat, fenomenologi adalah upaya untuk mengembalikan kehidupan pada hakikat kehidupan itu sendiri, atau“dunia apa adanya”.

Comments

comments

» Philosophy » Ilmu-Ilmu Sosial

, January 20, 2015

Comments are closed.