Paradigma

Philosophy

By: Syarif Maulana

Sudah bukan cerita baru jika anak kecil bertanya pada seorang kiai tentang siapa yang lebih dahulu: Nabi Adam atau manusia purba? Atau kita juga tahu betapa kalangan agamawan kerap kebakaran jenggot menghadapi teori evolusi Darwin. Bagaimana sesungguhnya menjawab hal-hal seperti itu? Apakah memang iya yang satu punya jawaban yang lebih benar daripada yang lain?

Thomas Kuhn

Thomas Kuhn (1922-1996) adalah orang yang bisa disebut sebagai penenang dalam pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Kata Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1962), paradigma adalah sistem keyakinan yang berkembang, lalu kokoh, namun kelak akan digoyang juga. Jadi untuk pertanyaan semacam contoh di atas, Kuhn akan menjawab, “Tentu saja tidak ada yang lebih benar karena keduanya berbeda paradigma. Ada sistem keyakinan yang berbeda dalam melihat suatu peristiwa dan mencari solusinya.” Kuhn memaparkan tentang paradigma ini dengan terlebih dahulu secara hati-hati mengamati sejarah ilmu pengetahuan. Kata Kuhn, perkembangan paradigma itu terbentuk dalam tiga tahap:
Tahap pra-paradigma
Ini adalah tahap dimana masyarakat mengajukan teori-teori secara terpisah. Kelompok A mengajukan teori untuk menyelesaikan persoalan di wilayah A, kelompok B mengajukan teori untuk menyelesaikan persoalan di wilayah B. Teori-teori ini tidak terhubung dan bisa dibilang “acak-acakan”.
Sains normal (normal science)
Periode ini adalah periode dimana teori-teori yang “acak-acakan” tadi mengalami keterhubungan satu sama lain oleh sebab kesamaan bahwa semuanya mampu menyelesaikan persoalan. Ini adalah periode yang Kuhn sebut sebagai puzzle solving. Seperti misalnya pemikiran Copernicus, Galileo, dan Newton punya satu kesamaan maka itu mereka bergabung dalam satu sistem keyakinan yang sama.
Sains revolusioner (revolutionary science)
Ketika ada satu sistem keyakinan yang sama, sepaham, Kuhn melihat bahwa selalu ada saja metode yang revolusioner. Metode yang dianggap lebih baik dan sekaligus mengritisi kemapanan yang ada. Contohnya adalah Copernicus yang menentang paradigm Ptolemy bahwa bumi yang mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya. Sains revolusioner ini akan menjadi suatu bentuk tahapan pra-paradigma yang kemudian kembali menjadi cikal bakal sains normal dan seterusnya.
Pernyataan Thomas Kuhn ini mengguncang dunia sains yang pada masa itu sedang mengalami suatu keyakinan absolut terhadap kebenaran tunggal sains. Kata Kuhn, “Ah, itu cuma kesepahaman pandangan diantara kalian, masih banyak cara lain memandang dunia dan menyelesaikan problem di dalamnya.” Pada perkembangannya, dirumuskan ada empat paradigma yakni positivisme, post-positivisme, konstruktivisme, dan critical theory. Positivisme dan post-positivisme sudah pernah diulas di makalah sebelumnya.

Konstruktivisme

the norm of the truth is to have made it,” – Giambattista Vico

Paradigma konstruktivisme adalah lawan berat positivisme dan post-positivisme. Ketika kedua nama terakhir percaya bahwa kebenaran itu out-there, konstruktivisme percaya bahwa kebenaran itu in-here, atau: subjektif, kebenaran itu adalah tergantung bagaimana kita mengonstruksi kebenaran itu sendiri. Dasar pemikiran ini sesungguhnya cukup kokoh jika dirunut dari awal misalnya dari pemikiran Yunani: Heraklitus mengatakan bahwa, “Segala sesuatu berubah. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri,” sejalan dengan Protagoras yang berkata, “Manusia adalah ukuran dari segala sesuatu.”
Kemudian, jika positivisme dan post-positivisme punya upaya menjadikan fenomena itu sebagai terprediksi dan terkontrol, maka konstruktivisme menganggap itu semua sia-sia. Kata konstruktivisme, fenomena itu hanya bisa dimaknai dan dibangun darinya sesuatu yang baru (konstruksi). Konstruktivisme menjadi jawaban serius bagi positivisme Comtean yang amat “ambisius” ingin memasuki ranah sosial setelah sebelumnya “sukses” diterapkan dalam ilmu alam. Contoh pemikiran konstruktivisme diantaranya adalah hermeneutika dan fenomenologi. Tokoh-tokoh konstruktivisme adalah Giambattista Vico, Alfred Schutz, Hans George Gadamer, Jean Piaget

Critical Theory

Masih terdapat perdebatan tentang critical theory sudah menjadi suatu paradigma yang kokoh atau belum, oleh sebab statusnya yang justru kerap menjadi pemicu sains revolusioner. Critical theory adalah suatu bentuk pemikiran yang melihat fenomena sebagai suatu bentuk ciptaan kekuasaan yang harus ditelaah secara kritis. Critical theory berbasiskan filsafat Karl Marx tentang bagaimana kapitalisme harus digulingkan untuk menciptakan suatu masyarakat tanpa kelas (komunisme). Filsafat Marx menekankan pentingnya aspek praktis dalam filsafat. Katanya, “Para filsuf seharusnya mengubah dunia, jangan terus-terusan memikirkannya.” Critical theory umumnya datang dari geng Frankfurt School yang mengaku meneruskan tradisi berpikir Marx dengan menyebut diri neo-marxis. Tokoh-tokohnya antara lain Theodor Adorno, Walter Benjamin, Herbert Marcuse, dan Jurgen Habermas. Contoh pemikiran critical theory misalnya adalah feminisme, poskolonialisme, post-strukturalisme, dan post-modernisme.

Comments

comments

» Philosophy » Paradigma

, January 20, 2015

Comments are closed.