Perancangan Kuesioner (Bagian 1): Prosedur

Research & Statistics, Survey Methodology

Kontributor: Anas Teguh S.
Editor: Kharisma Prima

Dalam mendesain kuesioner, tidak ada prosedur yang pasti dalam menghasilkan kuesioner yang baik.Tujuan dari pembelajaran ini hanyalah untuk menunjukkan ”rules of thumb” secara sistemis yang telah diperoleh melalui pengalaman. Langkah-langkah untuk membuat kuisioner adalah (Aaker, 1995):

  1. Merencanakan hal-hal yang akan diukur
  2. Memformulasikan pertanyaan agar didapatkan informasi yang dibutuhkan
  3. Memutuskan tata bahasa dan perintah dari pertanyaannya, serta layout kuesioner.
  4. Menggunakan sample yang kecil, tes kuesioner untuk ambiguitas dan hal-hal yang belum dicantumkan.
  5. Memeriksa dan memperbaiki permasalahan, tes kembali bila perlu

Langkah yang paling sulit adalah menspesifikasikan informasi apa saja yang akan dikumpulkan dari tiap responden. Pertimbangan dan pemikiran yang panjang diperlukan agar hasilnya relevan dengan tujuan penelitian. Proses dari desain kuesioner ditunjukkan pada Gambar berikut (Aaker, 1995).

Proses Desain Kuesioner

Proses Desain Kuesioner

 

Pembahasan perancangan kuesioner lebih lanjut akan disampaikan mengikuti alur perancangan yang terdapat dalam Gambar di atas.

1. Perencanaan Hal-Hal yang Akan Diukur

Pada tahap perencanaan, peneliti harus memeriksa kembali tujuan penelitian sehingga diperoleh informasi-informasi apa saja yang sebenarnya diperlukan dari  kuesioner.  Penentuan issue penelitian yang dimasukkan ke dalam kuesioner juga tahapan yang penting agar kusioner relevan dengan tujuan penelitian. Langkah selanjutnya dalam tahap perencanaan ini adalah mencari informasi tambahan pada issue penelitian dari sumber data sekunder untuk penelitian eksploratori.

Dari informasi tambahan yang diperoleh, peneliti mulai dapat menentukan variabel-variabel apa yang diperlukan yang akan diukur dalam suatu kuesioner. Variabel adalah sesuatu yang membedakan nilai (Sekaran, 1992). Nilai tersebut dapat berbeda untuk waktu yang berbeda meskipun ditujukan pada obyek atau orang yang sama.

Sekaran (1992) membagi variabel menjadi 4 jenis berdasarkan hubungan antar variabelnya sebagai berikut :

  1. Variabel dependen (variabel kriteria): merupakan variabel yang menjadi fokus utama peneliti. Tujuan penelitian adalah untuk menjelaskan atau memprediksikan variabilitas variabel dependen. Melalui analisis terhadap variabel dependen, dapat ditemukan jawaban atau solusi dari suatu masalah.
  2. Variabel independen (variabel penduga): merupakan variabel yang mempengaruhi variabel dependen secara negatif ataupun positif. Apabila variabel independen muncul, maka variabel dependen juga akan muncul. Naik turunnya nilai variabel independen akan menyebabkan naik turunnya nilai variabel dependen.
  3. Variabel moderator: merupakan variabel yang memiliki pengaruh kontingen yang kuat terhadap hubungan variabel independen – variabel dependen. Keberadaan variabel moderator akan memodifikasi hubungan yang diharapkan dari variabel independen dan variabel dependen. Pada kasus lain, hubungan antara variabel independen dan variabel dependen akan terjadi dengan adanya variabel moderator.
  4. Variabel intervening: merupakan variabel yang muncul diantara waktu munculnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Variabel intervening merupakan fungsi dari variabel independen, yang membantu menjelaskan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

Ilustrasi dari keempat jenis variabel tesebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Diagram Hubungan Antar Variabel

Diagram Hubungan Antar Variabel

Bollen (1989) membagi variabel menjadi 2 jenis berdasarkan pengukuran variabel, yaitu:

  1. Variabel Laten: merupakan variabel yang mewakili suatu konsep satu dimensi dalam bentuk aslinya. Variabel laten merupakan variabel yang tidak dapat diobservasi atau diukur langsung. Karena variabel laten mewakili suatu konsep yang abstrak, maka variabel ini bersifat hipotetikal.
  2. Variabel Manifes: merupakan variabel yang dapat diobservasi atau diukur langsung, sebagai indikator atau pengukur dari variabel laten. Sebuah variabel laten dapat memiliki lebih dari satu variabel manifes, yang masing-masing mengukur dimensi yang berbeda dari variabel laten tersebut. Asumsi yang tidak boleh dilanggar adalah variabel manifes harus memiliki korelasi yang tinggi dengan variabel laten yang diukurnya.

Model penelitian atau kerangka kerja teoretis adalah jaringan asosiasi yang dibangun dan dijelaskan antara variabel yang telah diidentifikasi melalui observasi atau survey literatur (Sekaran, 1992). Model penelitian merupakan landasan dari keseluruhan penelitian yang dilakukan.

Menurut Sekaran ada lima hal penting dalam penyusunan suatu model penelitian, yaitu:

  1. Variabel yang dinilai relevan dengan penelitian harus diidentifikasi dengan jelas.
  2. Pembentukan model harus mampu menjelaskan alasan mengapa variabel-variabel yang ada terkait satu sama lain. Hal ini terutama dilakukan terhadap hubungan penting yang secara teoretis terdapat diantara variabel-variabel.
  3. Apabila sifat dan arah hubungan dilandasi oleh teori yang dilakukan dalam observasi awal, maka harus terdapat dugaan apakah hubungan tersebut bersifat negatif atau positif.
  4. Harus ada penjelasan mengapa hubungan tersebut diharapkan ada. Argumen dapat dibuat berdasarkan penelitian pendahuluan atau studi literatur.
  5. Diagram skematis dari model penelitian harus dibuat agar pembaca dapat menggambarkan hubungan yang dibuat berdasarkan teori tersebut.

Pembentukan model penelitian bertujuan untuk menggambarkan secara singkat, jelas, dan terstruktur keterkaitan antara variabel-variabel yang digunakan dan diuji dalam penelitian.

Pada penelitian yang memiliki variabel laten, terdapat dua macam model penelitian yang dikembangkan yaitu :

  1. Model pengukuran (measurement model): merupakan model yang menggambarkan pengukuran terhadap variabel laten berdasarkan variabel manifes yang merepresentasikannya. Model pengukuran memiliki persamaan struktural yang mewakili hubungan antara variabel laten dengan variabel manifes (Bollen, 1989). Sebagai contoh, sebuah variabel laten yang memiliki tiga variabel manifes diukur sebagai berikut:
Model Pengukuran Variabel Laten dengan 3 Variabel Manifes

Model Pengukuran Variabel Laten dengan 3 Variabel Manifes

Persamaan struktural untuk model pengukuran pada gambar adalah sebagai berikut :

x1 = d1 X + e1

x2 = d2 X + e2

x3 = d3 X + e3

dimana :
x1..x3     = variabel manifes
X           = variabel laten
d1..d3    = koefisien yang menghubungkan x ke X
e1..e3    = kesalahan (error) pengukuran untuk x1..x3

  • Model konstruk (construct model): Model konstruk, yang disebut juga model struktural, adalah model yang menggambarkan hubungan keterkaitan antara variabel-variabel dalam penelitian.

 

2. Formulasi Kuesioner

Pada tahap formulasi kuesioner, yang perlu ditentukan adalah apa isi dari setiap pertanyaan serta bagaimana format dari tiap pertanyaan.

Sebelum membuat pertanyaan yang spesifik, terlebih dahulu harus diputuskan derajat kebebasan responden untuk menjawab pertanyaan. Alternatifnya adalah:

  1. Open-ended question tanpa klasifikasi, dimana pewawancara mencoba untuk merekam respon kata demi kata.
  2. Open-ended, dimana pewawancara mencoba untuk terlebih dahulu membuat kode klasifikasi untuk merekam respon.
  3. Closed/structured, dimana sebuah pertanyaan yang merepresentasikan respon yang mungkin dipikirkan responden.

Menggunakan open response question untuk melanjutkan closed response question disebut probe. Probe secara efisien dapat mengkombinasikan keuntungan dari kedua format pertanyaan tersebut. Contoh yang umum adalah untuk menanyakan pada responden yang memilih jawaban ’tidak satupun dari pilihan di atas’, sebuah pertanyaan follow-up untuk menjelaskan jawaban mereka.

2.1. Open Response Questions

Keuntungan dari open response questions adalah dapat diperolehnya respon dengan range yang lebar. Dengan keuntungan seperti ini, open response question cocok digunakan dalam situasi:

  1. Sebagai perkenalan pada sebuah survey atau topik. Misalnya pertanyaan “Secara umum, bagaimana pendapat anda tentang pelayanan di tempat ini?”, akan memperkenalkan subyek survey tersebut pada responden, sekaligus sebagai pembukaan untuk pertanyaan selanjutnya yang lebih spesifik.
  2. Ketika penting untuk mengetahui sudut pandang responden akan sebuah topik. Misalnya ”Menurut anda, apakah masalah terpenting yang sedang dihadapi negara ini sekarang?”, akan memberikan wawasan/pengertian akan masalah yang paling mengganggu bagi responden.
  3. Ketika terlalu banyak respon yang mungkin untuk dapat dimasukkan dalam daftar, atau respon tidak dapat diperkirakan/diramalkan. Misalnya ”Apa yang anda sukai dari lingkungan perumahan ini?”
  4. Ketika respon dibutuhkan kata demi kata untuk memberikan flavor dari jawaban, atau untuk dicantumkan dalam sebuah report.
  5. Ketika perilaku yang diukur merupakan hal yang sensitif atau tercela, misalnya pertanyaan tentang frekuensi aktivitas seks bebas. Ketika responden diberikan open response question, maka hasil frekuensi akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan mencantumkan pilihan jawaban (closed response question). Ketika responden diberikan pilihan kategori ’frekuensi rendah’ dalam closed format, maka responden akan lebih sulit untuk mengakui ’frekuensi tinggi’.

Kekurangan dari open response questions adalah variabilitas kejelasan dan kedalaman respon tergantung pada:

  1. Artikulasi reponden pada situasi wawancara, atau kemauan untuk menyusun jawaban tertulis untuk kuesioner.
  2. Kemampuan pewawancara untuk merekam pembicaraan kata demi kata secara cepat, atau untuk menyimpulkan secara cepat, dan untuk menggali responden secara efektif.

Open response questions juga menghabiskan banyak waktu, baik dalam melakukan wawancara/survey, maupun dalam tabulasi. Klasifikasi harus dilakukan untuk merangkum respon, dan setiap jawaban harus ditempatkan pada satu atau lebih kategori. Hal ini memerlukan pertimbangan subyektif yang rawan kesalahan. Untuk meminimasi sumber error tersebut, mungkin diperlukan dua orang editor yang mengkategorisasi respon secara independen, dan kemudian hasilnya dibandingkan satu sama lain. Kekurangan lainnya adalah jawaban yang diberikan tergantung pada space dan waktu yang tersedia, dan maksud yang disampaikan tidak jelas karena ’kemalasan’ menulis jawaban, atau perbedaan penjabaran.

Karena open response questions memiliki banyak kelemahan, serta tidak menjamin akan menghasilkan repon yang lebih relevan, meaningful, dan non-repetitive, maka disarankan untuk mengunakan closed reponse question sebanyak mungkin dalam survey berskala besar.

2.2. Closed Response Questions

Ada 2 format dasar untuk closed-ended questions. Yang pertama meminta responden untuk menentukan satu atau lebih pilihan dari daftar respon yang mungkin. Yang kedua adalah rating scale dimana responden diberikan kategori yang merespresentasikan range dari respon.

 Keuntungan dari closed response question adalah:

  1. Mudah untuk dijawab, baik dalam wawancara maupun survey
  2. Dibutuhkan effort yang lebih sedikit untuk pewawancara, serta lebih mudah dalam tabulasi dan analisis
  3. Kemungkinan adanya kesalahan lebih kecil dalam perbedaan pertanyaan dan respon
  4. Jawaban yang diberikan dapat dibandingkan langsung antar responden (dengan mengasumsikan semua responden sama dalam menginterpretasikan kalimat).

Kekurangan dari closed response question adalah:

  1. Bila ada pilihan jawaban middle alternative, responden cenderung untuk memilih kategori tersebut. Maka bila seseorang ingin mendesain pertanyaan yang jelas, maka lebih baik tidak menggunakan middle alternative dalam kategori jawaban.
  2. Bila terdapat banyak pilihan kategori, maka semua kategori tersebut akan mendapatkan respon dengan persentase tertentu. Hal ini mungkin tidak dapat menghasilkan hasil yang berarti.

Adanya daftar kategori dapat menyediakan jawaban yang mungkin tidak dapat dipikirkan oleh reponden. Responden mungkin juga dapat menghindari pertanyaan yang sulit dengan pilihan alternatif yang mudah, seperti ’tidak tahu’.

Jumlah kategori respon

Jumlah kategori respon bervariasi antara 2 sampai dengan 100 kategori. Secara umum, range opini dapat dituangkan dengan baik dalam 5 sampai 7 kategori. Lima kategori mungkin jumlah minimum yang diperlukan untuk membagi secara efektif. Contoh dari 5-point scale adalah Likert scale.

Mengatasi ketidakpastian dan ketidaktahuan

Tidak semua pertanyaan dapat dijawab oleh responden. Ada beberapa hal dimana responden mengalami kesulitan untuk menjawab, seperti kurangnya pengetahuan, lupa, tidak mampu menginterpretasikan pertanyaan, atau mengalami kesulitan untuk memilih. Oleh karena itu dianjurkan untuk mencantumkan pilihan ’tidak tahu’ dan neural response seperti ’tidak yakin’ atau ’tidak keduanya’ bila ada kemungkinan kuat untuk lupa atau ketidaktahuan.

3. Tata Bahasa Pertanyaan: Sebuah Masalah Komunikasi

Tata bahasa dari pertanyaan tertentu dapat berpengaruh besar dalam bagaimana reponden menginterpretasikannya. Berikut ini dijabarkan tuntunan untuk mengevaluasi dan mengembangkan pertanyaan yang sudah ada (Aaker, 1995):

  1. Apakah pertanyaan tersebut memiliki vocabulary yang simple, familiar, dan langsung (tidak berputar-putar)?
    ⇒Dalam hal ini kata yang dipilih harus dapat dimengerti oleh seluruh responden, tidak tergantung dari tingkat pendidikan seseorang.
  2. Apakah ada kata yang memiliki arti yang tidak jelas atau ambigu?
    ⇒Kesalahan yang biasa terjadi adalah tidak adanya frame referensi yang jelas pada responden untuk menginterpretasi pertanyaan yang diajukan. Beberapa kata memiliki interpretasi yang tidak jelas, dan reponden cenderung akan mengisi sesuka mereka, sehingga menghasilkan jawaban yang tidak comparable. Misalnya kata ’pendapatan (income)’ mungkin dapat diinterpretasikan berbeda sebagai rata-rata upah tiap jam, gaji per minggu, pendapatan bulanan, pendapatan sebelum pajak atau pendapatan bersih, pendapatan aktif atau pasif, dll.
  3. Apakah ada pertanyaan yang ”double-barreled”?
    Double-barreled adalah pertanyaan dimana responden dapat menyetujui dengan sebagian dari pertanyaan, tetapi tidak bagian lainnya, atau tidak dapat menjawab sama sekali tanpa menggunakan asumsi tertentu. Sebagai contoh, pertanyaan ‘Apakah anda berencana untuk berhenti dari pekerjaan anda dan mencari pekerjaan lain satu tahun ke depan?’ merupakan pertanyaan double-barreled dan harus dihindari.
  4. Apakah ada pertanyaan leading atau loaded?
    ⇒Pertanyaan leading adalah pertanyaan yang dengan jelas menyarankan sesuatu sesuai pendapat pewawancara. Hal ini biasanya dilakukan dengan menambahkan ‘apakah anda juga setuju?’ atau ’bukan begitu?’ di akhir kalimat. Sedangkan pertanyaan loaded berisi kesalahan yang lebih tidak terlihat. Biasanya kesalahan ini dilakukan dengan tidak menyebutkan seluruh alternatif, sehingga mempengaruhi responden untuk menjawab, misalnya pertanyaan ’Bagaimana biasanya anda mengabiskan waktu luang anda – menonton televisi, atau apa?’. Atau ketika pewawancara memberikan alasan untuk salah satu alternatif saja, seperti ’Apakah menurut anda pemerintah harus meningkatkan pajak untuk mengatasi semua masalah kekurangan dana rumah tangga negara, atau pajak dipertahankan seperti ini saja?’
  5. Apakah instruksi berpotensi untuk membingungkan responden?
    ⇒Pertanyaan biasanya diuraikan terlalu panjang dan rumit bagi responden, untuk menjelaskan situasi awalnya atau ’dasar teori’nya. Hal ini akan membingungkan responden atau bahkan membuat tidak sabar (terutama bila responden tidak tertarik pada subyek penelitiannya), dan jawaban yang dihasilkan akan terpengaruh karena hal ini. Oleh karena itu cara menyampaikan pertanyaan harus lebih terukur sesuai dengan pengetahuan dan ketertarikan konsumen.
  6. Apakah pertanyaan applicable untuk semua responden?
    ⇒Responden mungkin akan mencoba menjawab pertanyaan walaupun mereka tidak qualify untuk itu, atau tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Misalnya ”Apa pekerjaan anda sekarang?” (mengasumsikan responden sudah bekerja), ”Di mana anda tinggal sebelum ini?’ (mengasumsikan responden sudah pindah sebelumnya), atau ”Siapa yang anda pilih pada pemilu lalu?” (mengasumsikan responden memilih dalam pemilu). Solusinya adalah untuk membatasi/menyaring pertanyaan, dan melanjutkan pertanyaan lebih jauh hanya untuk reponden yang qualified.
  7. Teknik split-ballot.
    ⇒Ketika timbul ketidayakinan dalam penggunaan kata, maka kita dapat mengetes beberapa alternatif. Sebagai contoh pertanyaan ”Menurut anda apakah seharusnya ada program pemerintah yang baru dalam negara ini?” adalah berbeda dengan pertanyaan ”Apakah diinginkan ada program pemerintah yang baru dalam negara ini?”. Terkadang pilihan ini dapat diputuskan dengan menilik kembali tujuan penelitian. Dengan tujuan penelitian untuk mengetahui sentimen umum publik terhadap pemerintah, maka pertanyaan yang impersonal akan lebih baik. Ketika pilihan tidak dapat diputuskan dengan jelas, maka solusi terbaik adalah untuk menggunakan pertanyaan pertama pada sebagian jumlah kuesioner, dan pertanyaan kedua pada sebagian kuesioner lainnya. Adanya perbedaan signifikan dapat menuntun dalam menginterpretasikan maksud pertanyaan sebenarnya.
  8. Apakah panjang pertanyaan sesuai?
    ⇒Pertanyaan yang pendek tidak selalu baik, karena dalam situasi tertentu pertanyaan mungkin harus panjang untuk menghindari ambiguitas. Akan tetapi kuesioner dengan pertanyaan-pertanyaan yang panjang akan membuat responden lelah dan lebih sulit untuk memahami. Satu rule of thumb yang sering digunakan adalah dalam satu pertanyaan jumlah kata tidak lebih dari 20.

3.1. Menanyakan Pertanyaan Sensitif

Terkadang pertanyaan penelitian dapat memasuki area sensitif, misalnya pertanyaan ”Apakah anda pernah melakukan tindakan kriminalitas?” atau ”Berapa kali dalam seminggu anda menghisap ganja?”. Dalam hal ini ada beberapa cara untuk mendapatkan jawaban yang jujur. Berikut adalah satu contoh kasus pada responden dewasa yang ditanyakan tentang aktivitas mengkonsumsi sereal Kellogg’s Frosted Flakes (sebuah situasi yang berpotensi untuk membuat malu responden).

  1. Pendekatan biasa: ”Apakah anda memakan ’Frosted Flakes’ dalam minggu terakhir ini?”
  2. Menggunakan kartu bernomor: ”Tolong baca nomor dalam kartu ini yang berhubungan dengan apa yang anda makan sebagai sarapan dalam minggu terakhir.” (Memberikan kartu pada responden.)
    • Pancake
    • Frosted Flakes
    • Lainnya (apa?)

    (Ambil kembali kartu dari responden sebelum memulai!)

  3. Pendekatan ’semua orang’: ”Seperti yang kita ketahui, banyak orang yang mengkonsumsi Frosted Flakes sebagai sarapan mereka. Apakah anda juga mengkonsumsi Frosted Flakes?”
  4. Pendekatan ’orang lain’:
    a. ”Apakah anda tahu orang dewasa lainnya yang mengkonsumsi Frosted Flakes?”
    b. ”Bagaimana dengan anda?”
  5. Teknik Sealed Ballot : Dalam pendekatan ini pewawancara menjelaskan bahwa responden akan diwawancarai tanpa nama untuk menghormati privacynya. Kemudian jawaban ditulis dalam selembar kertas dan dimasukkan dalam kotak tertutup.
  6. Teknik Kinsey : Nyatakan dengan tegas, dengan memandang langsung pada mata responden, tanyakan pertanyaan dengan simple menggunakan bahasa langsung dan jelas, dengan suasana seakan-akan pertanyaan ini wajar ditanyakan, dan semua orang juga melakukan hal yang sama, ”Apakah anda sarapan Frosted Flakes?”

4. Urutan dan Layout Keputusan

Tuntunan dasar untuk menentukan urutan dalam kuesioner untuk membuatnya menarik dan logis baik untuk pewawancara maupun responden adalah sebagai berikut:

  1. Buka wawancara dengan pertanyaan mudah/ringan dan tidak mengancam. Hal ini membantu untuk membangun hubungan dan kepercayaan diri responden dalam kemampuannya menjawab pertanyaan.
  2. Kuesioner harus mengalir dengan lancar dan logis dari satu topik ke topik lainnya. Peralihan topik secara tiba-tiba sebaiknya dihindari, karena dapat menyebabkan kebingungan bagi responden. Ketika topik baru akan diangkat, diperlukan suatu pernyataan transisi yang menjelaskan bagaiman topik baru ini berhubungan dengan apa yang baru didiskusikan sebelumnya atau tujuan penelitian.
  3. Bagi sebagian besar topik, akan lebih baik jika dimulai dengan pertanyaan yang umum, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih spesifik.
  4. Pertanyaan sensitif atau sulit yang berhubungan dengan status pendapatan, kemampuan pribadi, dll, sebaiknya tidak diletakkan pada awal kuesioner.
Aturan Umum dalam Kuesioner

Aturan Umum dalam Kuesioner

 

 

5. Tes Kuesioner dan Perbaikan Masalah

Tujuan dari sebuah tes pendahuluan atau biasa disebut pretest adalah untuk memastikan kuesioner dapat memenuhi ekspektasi peneliti. Hal ini dilakukan peneliti dengan cara melihat dari sudut pandang responden dan mencoba untuk menjawab pertanyaan yang tercantum dalam kuesioner.

Langkah-langkah dalam melakukan pretest adalah (Aaker, 1995):

  1. Mengikuti aliran kuesioner.
    Mengetes flow dari kuesioner sering kali tergantung pada intuisi pertimbangan peneliti. Karena responden tidak mengetahui apa pertanyaan selanjutnya, maka pertanyaan-pertanyaan yang ada harus mengikuti urutan logis sebagai sebuah bagian dari flow yang menyatu.
  2. Skip patterns.
    Banyak kuesioner yang mempunyai instruksi untuk melewatkan pertanyaan tertentu, tergantung pada jawaban pertanyaan sebelumnya. Skip patterns harus jelas dan ditempatkan dengan baik. Dalam hal ini, kuesioner seperti sebuah peta perjalanan dengan tanda-tanda.
  3. Panjang.
    Setiap bagian dari kuesioner harus diukur waktunya untuk memastikan tidak ada yang terlalu panjang. Bila hal ini tidak dilakukan, maka peneliti mungkin akan menghadapi masalah dimana responden merasa lelah, meminta untuk break selagi wawancara, atau bahkan penolakan sebelum wawancara/survey dilakukan bila responden sudah merasa bahwa survey akan menghabiskan banyak waktu.
  4. Perhatian dan ketertarikan responden.
    Menangkap dan menjaga ketertarikan responden melalui keseluruhan desain kuesioner merupakan tantangan utama. Seringkali pertanyaan dibuat bervariasi dalam kuesioner untuk mendapatkan perhatian aktif dari responden.

Terakhir, analisis pretest kembali pada kegiatan pertama dari proses desain. Setiap pertanyaan ditinjau kembali dan dibenarkan posisinya dalam kuesioner. Hasil jawaban pretest dapat digunakan untuk menganalisis dengan melihat apakah pola jawaban masuk akal, atau sulit untuk diiterpretasikan; apakah pertanyaan memerlukan keterangan/informasi tambahan, atau ada pertanyaan yang redundan; dll. Tentu saja untuk mendapatkan hasil analisis yang baik, pengisian pretest kuesioner tidak hanya dilakukan oleh peneliti sendiri, akan tetapi juga oleh beberapa responden.


Referensi:

  • Aaker, D. A. 1995. Strategic Market Management. New York: John Wiley & Sons, Inc.
  • Bollen, Kenneth A. 1989. Structural Equations with Latent Variables. New York: John Wiley & Sons, Inc.
  • Sekaran, Uma. 1992. Research Methods For Business: A Skill Building Approach, Secon Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Bagian 1   |   Bagian 2

Comments

comments

» Research & Statistics, Survey Methodology » Perancangan Kuesioner (Bagian 1): Prosedur

, , March 23, 2015

Comments are closed.