Statistical Quality Control (Bagian 1): Pengantar

Research & Statistics, Statistical Process Control, Statistics

Kontributor: Anas Teguh S.
Editor: Kharisma Prima


A1. Definisi Kualitas

Juran (dalam Kolarik 1999, hal.5) mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use). Ini berarti bahwa suatu produk atau jasa hendaklah sesuai dengan apa yang diperlukan atau diharapkan oleh pengguna. Selain itu, Juran (2000) juga mengemukakan kualitas sebagai kesesuaian terhadap syarat spesifikasi desain (conformance to specification).

Tokoh lain yang mengembangkan manajemen kualitas adalah Edward Deming. Menurut Deming, kualitas adalah keseragaman produk yang dapat diprediksi. Penekanannya pada penggunaan control chart sebagai inti dari filosofi kualitas yang dikembangkannya. Menurutnya, kualitas produk tercermin dari kualitas proses (Mitra, A. 1999, hal.72). Definisi Juran (kualitas sebagai kesesuaian dengan spesifikasi) sejalan dengan definisi Deming bahwa kualitas merupakan keseragaman produk. Kesesuaian dengan spesifikasi mengandung arti bahwa setiap produk harus dibuat seakurat mungkin (sesuai dengan spesifikasi) sehingga hasilnya seragam.

Kedua definisi kualitas Juran memiliki konteks yang berbeda. Fitness for use mengacu pada kesesuaian terhadap kebutuhan pelanggan. Dalam Trilogi Juran, kualitas ini dirancang pada tahapan planning (lihat bagian A3). Adapun conformance to specification mengacu pada kesesuaian produk yang dihasilkan terhadap spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya (dihasilkan dari tahapan planning). Dalam Trilogi Juran, kesesuaian terhadap spesifikasi ini dicapai pada tahapan control (lihat bagian A3).


A2. Dimensi Kualitas

David A Garvin (1987, dalam Montgomery D.C. 2001, hal.2) mengemukakan delapan dimensi kualitas produk yaitu:

  • Performance: karakteristik kinerja utama produk.
  • Feature: aspek sekunder dari kinerja atau kinerja tambahan dari suatu produk
  • Reliability: kemungkinan produk berfungsi dengan baik dalam suatu jangka waktu tertentu
  • Conformance: kesesuaian dengan keinginan/kebutuhan konsumen
  • Durability: daya tahan produk/masa hidup produk baik secara ekonomis maupun teknis
  • Serviceability: kecepatan, kesopanan, kompetensi, mudah diperbaiki
  • Aesthetics: keindahan produk, dalam desain, rasa, suara atau bau dari produk, bersifat subjektif
  • Perceived quality: kualitas dalam pandangan pelanggan/konsumen

 Dimensi kualitas pelayanan menurut Parasuraman (dalam Foster, S. Thomas 2001, hal.7):

  • Reliability: kemampuan untuk melakukan pelayanan yang akurat.
  • Responsiveness: keinginan untuk membantu pelanggan dan memberikan layanan dengan cepat.
  • Assurance: pengetahuan, kebaikan, dan keamampuan yang dapat memberikan kepercayaan dan keyakinan.
  • Emphaty: perhatian dan peduli terhadap pelanggan.
  • Tangibles: bentuk fasilitas fisik, perlengkapan, personal, dan komunikasi.


A3. Trilogi Kualitas

Menurut Juran (2000), pencapaian kualitas harus diawali dengan membuat visi organisasi dan disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk mencapai tujuan dan kualitas yang diinginkan, dibutuhkan suatu proses manajerial yang terdiri dari serangkaian aktivitas yang harus dilakukan. Proses manajerial ini dikenal sebagai Trilogi Kualitas dan ditunjukkan pada Gambar 1:

Gambar 1. Diagram Trilogi Kualitas Juran (Sumber:  Juran, Joseph M. 2000 hal 2.7)

Gambar 1. Diagram Trilogi Kualitas Juran
(Sumber: Juran, Joseph M. 2000 hal 2.7)

 

  1. Quality Planning (Perencanaan Kualitas)
    Perencanaan kualitas adalah proses pengembangan produk (barang dan jasa) yang dilakukan secara terstruktur untuk menjamin tercapainya pemenuhan kebutuhan konsumen. Pada tahap ini kualitas ditentukan berdasarkan kesesuaian antara spesifikasi yang dihasilkan dengan kebutuhan konsumen (fitness for use). Tahap ini termasuk dalam pengendalian kualitas secara off-line (off-line quality control). Langkah-langkah perencanaan kualitas adalah sebagai berikut:

    • Merencanakan proyek;
    • Identifikasi pelanggan;
    • Menentukan kebutuhan pelanggan;
    • Pengembangan karakterisrtik produk sesuai dengan keinginan konsumen;
    • Pengembangan proses yang dapat menghasilkan karakteristik produk;
    • Pengembangan sistem pengendalian dan pengubahan rencana menjadi aktivitas operasi.
  1. Quality Control (Pengendalian Kualitas)
    Pengendalian kualitas adalah proses manajerial yang dilakukan untuk menjamin adanya stabilitas proses. Pada tahap ini, kualitas ditentukan berdasarkan kesesuaian antara hasil dengan spesifikasi yang telah ditetapkan pada tahap planning (conformance to specification). Untuk mempertahankan stabilitas, proses pengendalian kualitas yang dilakukan adalah evaluasi performansi secara aktual, membandingkannya dengan tujuan atau target, kemudian mengambil tindakan terhadap perbedaan yang terjadi (Gambar 2). Pada tahap ini terdapat pemborosan-pemborosan yang dapat dieliminasi melalui quality improvement, yaitu aktivitas terakhir dalam trilogi Juran.

    Gambar 2. Langkah Pengendalian Kualitas (Sumber:  Juran, Joseph M. 2000 hal 4.5)

    Gambar 2. Langkah Pengendalian Kualitas
    (Sumber: Juran, Joseph M. 2000 hal 4.5)

  2. Quality Improvement (Perbaikan Kualitas)
    Perbaikan kualitas didefinisikan sebagai aktivitas yang dilakukan secara terorganisasi untuk menghasilkan perubahan kualitas yang lebih baik dan bermanfaat. Peningkatan kualitas ini dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu:

    • Peningkatan fitur produk, sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan (income oriented); dan
    • Penurunan cacat, sehingga mengurangi ketidakpuasan pelanggan dan meminimasi biaya produk cacat (cost oriented).

    Apabila solusi yang dihasilkan melalui tahap ini berkaitan dengan lantai produksi, maka perbaikan yang dilakukan tergolong on-line quality control. Namun apabila menyangkut desain spesifikasi produk, maka perbaikan ini termasuk dalam off-line quality control. Dalam hal ini, proses akan kembali ke tahap pertama, yaitu quality planning.


A4. Pengendalian Kualitas

Terdapat 2 jenis Pengendalian Kualitas, yaitu:

  1. On-Line Quality Control
    Yaitu pengendalian kualitas yang dilakukan pada lantai produksi. Secara garis besar, pengendalian ini diklasifikasikan menjadi tiga seperti pada Tabel 1.

    Tabel 1. Klasifikasi Pengendalian Kualitas secara On-Line

    Tabel 1. Klasifikasi Pengendalian Kualitas secara On-Line

  2. Off-Line Quality Control
    Yaitu pengendalian kualitas yang tidak dilakukan di lantai produksi. Contohnya adalah desain produk, yang termasuk dalam tahap Quality Planning dalam Trilogi Kualitas Juran.

Pengendalian kualitas adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan untuk memperbaiki, mempertahankan, dan mencapai kualitas suatu produk atau jasa. Tujuan dari pengendalian kualitas adalah terciptanya perbaikan kualitas yang berkesinambungan (continuous improvement). Pengendalian kualitas merupakan sebuah siklus yang berkesinambungan yaitu siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action) yang digambarkan dalam Gambar 3 berikut:

Gambar 3. Siklus PDCA (Sumber:  Tague, Nancy R. 2005 hal 391)

Gambar 3. Siklus PDCA
(Sumber: Tague, Nancy R. 2005 hal 391)

  1. PLAN
    • Mengidentifikasi masalah.
    • Menganalisis penyebab.
    • Merencanakan tindakan perbaikan.


  2. DO
    • Mengimplementasikan rencana perbaikan pada tahap Plan.


  3. CHECK
    • Menganalisis hasil perbaikan.
    • Menentukan pencapaian hasil.


  4. ACTION
    • Jika hasil perbaikan memuaskan, maka lakukan perubahan pada SOP (Standard Operating Procedure), lalu sosialisasikan perubahan.
    • Jika tidak memuaskan maka ulangi siklus dengan rencana baru.


A5. Perangkat Pengendalian Kualitas

Perangkat yang digunakan dalam proses pengendalian kualitas secara on-line (jenis Feedback Control) dikenal dengan The Seven Tools, yaitu:

1.

Lembar Pengecekan (Check Sheet): alat pengumpulan data karakteristik kualitas yang akan dikendalikan.

Gambar 4. Lembar Pengecekan

Gambar 4. Lembar Pengecekan

2.

Histogram: alat penyaji data agar mudah dipahami dan diolah lebih lanjut.
Gambar 5. Histogram

Gambar 5. Histogram

3. Diagram Pareto: alat untuk mengetahui dan menganalisis tingkat urgensi setiap ketidaksesuaian.
Gambar 6. Diagram Pareto

Gambar 6. Diagram Pareto

4. Diagram Sebab Akibat (Cause and Effect Diagram): alat untuk mengetahui penyebab ketidaksesuaian terhadap spesifikasi yang telah ditentukan.
Gambar 7. Diagram Sebab Akibat

Gambar 7. Diagram Sebab Akibat

5.

Diagram Sebar (Scatter Diagram): alat untuk mengetahui tingkat sebaran cacat /ketidaksesuaian.

Gambar 8. Diagram Sebar

Gambar 8. Diagram Sebar

6.

Diagram Alir (Flow Chart): alat untuk mengetahui aliran proses.

Gambar 9. Diagram Alir

Gambar 9. Diagram Alir

7.

Peta Kendali (Control Chart): alat untuk memonitor proses sehingga variansi proses dapat dikendalikan secara statistik.

Gambar 10. Peta Kendali

Gambar 10. Peta Kendali

 

A6. Peta Kendali

Peta kendali adalah alat yang digunakan untuk memonitor proses sehingga variasi proses dapat dikendalikan secara statistika. Variasi proses tidak mungkin dihindari meskipun proses produksi dilaksanakan pada kondisi dan spesifikasi yang sama. Variasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terlibat dalam proses produksi, seperti:

  • Peralatan atau mesin yang digunakan
  • Set up mesin kurang tepat
  • Kondisi dan keahlian operator
  • Kualitas material yang bervariasi.

Manfaat utama peta kendali adalah untuk:

  • Menjaga kestabilan proses
  • Memprediksi perilaku proses
  • Melakukan penyesuaian atau perbaikan proses
  • Perencanaan produksi
  • Sebagai alat preventif pengendalian kualitas.

Gambar 11 berikut menunjukkan jenis dan klasifikasi peta kendali:

Gambar 11. Klasifikasi Peta Kendali Variabel

Gambar 11. Klasifikasi Peta Kendali Variabel

 

Referensi:

  • Foster, S. Thomas. 2001. Managing Quality: an integrative approach. New Jersey: Prentice Hall.
  • Juran, Joseph. M. & A. Blanton Godfrey. 2000. Juran’s Quality Handbook. 5th edition. Singapore: McGraw-Hill.
  • Kolarik, William J. 1999. CREATING QUALITY: Process Design for Results. Singapore: McGraw-Hill.
  • Mitra, A. 1999. Fundamentals of Quality Control and Improvement. 2nd edition. New Jersey: Prentice Hall.
  • Montgomery, D. C. 2001. Introduction to Statistical Quality Control. 4th edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.
  • Tague, Nancy R. 2005. The Quality Toolbox. 2nd edition. Milwaukee: ASQ Quality Press.

Bagian 1   |   Bagian 2   |   Bagian 3   |   Bagian 4   |   Bagian 5

Comments

comments

» Research & Statistics, Statistical Process Control, Statistics » Statistical Quality Control (Bagian 1): Pengantar

, , , March 30, 2015

Comments are closed.